MAULID NABI SEBAGAI MOMENTUM PERSAUDARAAN

MAULID NABI SEBAGAI MOMENTUM PERSAUDARAAN
Oleh Inayatullah Hasyim

Kamis ini (24/12/2015) umat Islam Indonesia merayakan maulid Nabi. Secara khusus, pemerintah menjadikannya sebagai hari libur nasional.

Di tengah gelombang radikalisme dan terorisme yang menghantui masyarakat muslim di seluruh dunia, peringatan Maulid Nabi ini seharusnya menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan. Hemat saya, setidaknya ada tiga hal menarik. Pertama: tradisi Maulid ini dijalankan di hampir semua negara muslim. Di Pakistan, hari libur Maulid ditandai dengan tembakan salvo sebanyak 31 kali di Islamabad, ibukota negara, dan 21 kali di tiap ibukota provinsi.

Kecuali Saudi Arabia, hampir semua negara muslim memang “memerahkan” tanggal 12 Rabi'ul Awwal. Artinya, resmi sebagai libur nasional. Dalam kalender resmi yang diterbitkan kerajaan Arab Saudi, 12 Rabi'ul Awwal bukan libur nasional walaupun sebagian penduduk negeri itu “merayakan” maulid Nabi. Kata “merayakan” sengaja saya berikan tanda petik. Sebab, perayaan di kalangan penduduk Mekkah tidak sama dengan perayaan maulid di Tanah Air. Mereka tak menggelar kenduri, pasang tenda, membaca kisah Maulid karya Syeikh al-Barzanji atau keramaian lainnya. Mereka hanya mengungkapkan rasa bahagia itu dengan membagi-bagikan hadiah kepada orang lain.

Apa yang dilakukan pemerintah Arab Saudi dapat difahami. Secara umum, Saudi Arabia adalah manifestasi pemikiran Imam Ibn Taymiyah. Dalam kitabnya,“Iqtida Shiratal Mustaqim”, Ibn Taymiyah mengatakan, “menjadikan musim-musim selain musim-musim syariah seperti sebagian malam pada bulan Rabi'ul Awal yang diyakini sebagai malam maulid, perbuatan itu adalah inovasi (bid'ah) yang tidak pernah dilakukan para ulama terdahulu (salaf)”.

Kedua: Bagi kalangan yang menyelenggarakan Maulid, perayaan tersebut bukan saja sebuah prosesi kultural tetapi ibadah yang bernilai. Ibadah itu meliputi silaturahim, sholawat nabi, majlis ilmu, dan – tentu – bersedekah.

Di banyak tempat, maulid adalah festival tahunan yang meriah. Di berbagai kitab kuno, kita mendapatkan bahwa para ulama besar seperti As-Suyuthi, Ibn Hajar al-Asqalani dan Ibn Jauzi tidak melarang maulid Nabi. Dalam kitab “Husnul Maqshad fi Amalil Maulud”, Imam As-Suyuthi menulis, “Menurut saya, prosesi rangkaian maulid yang terdiri atas berkumpulnya manusia, membaca al-Qur'an, membaca riwayat tentang Nabi dan peristiwa kelahirannya serta menyantap makanan kemudian selesai, tanpa ada tambahan macam-macam adalah inovasi (bid'ah) yang baik yang mendapat balasan pahala pelakunya, sebab didalamnya ada penghormatan kepada kemuliaan Nabi dan mempertegas rasa bahagia atas kelahiran Nabi yang mulia.”

Dari penjelasan singkat As-Suyuthi itu perayaan Maulid adalah suatu “bid’ah hasanah”. Disebut “bid’ah” sebab memang tak dikenal di zaman Nabi, juga tidak di zaman para sahabat Nabi. Esensinya adalah, pada hari Maulid itu, umat Islam berbahagia atas kelahiran Rasulnya dan kemudian mengungkap rasa bahagia dalam syair seperti yang ditulis oleh Syeikh al-Barzanji.

Ketiga: Terlepas dari Anda sepakat atau tidak dengan perayaan Maulid, sesungguhnya ada satu persoalan yang menyita perhatian para pakar sejarah Islam. Selama ini, kita meyakini bahwa Nabi lahir pada hari Senin tanggal 12 Rabi'ul Awal tahun gajah. Bacaan lebih lanjut sesungguhnya boleh membuat kita berbeda pendapat. Misalnya, tentang hari-nya: Senin. Keyakinan ini didasari pada hadits Nabi ketika ditanya mengapa Nabi suka berpuasa di hari Senin? Jawabnya: “Ini adalah hari dimana aku dilahirkan.” (HR Muslim No. 1162).

Tentang tanggalnya: 12 bulan Rabi'ul Awal sesungguhnya adalah merupakan keyakinan madzhab Sunni. Kalangan Syiah meyakini Nabi lahir pada tanggal 17 masih di bulan yang sama. Lalu, tentang tahun-nya yang dikenal sebagai Tahun Gajah. Disebut demikian, sebab pada tahun ketika Nabi lahir itu, pasukan Abraha dari Yaman tengah menuju Makkah untuk menghancurkan Ka'bah. Peristiwa itu, menurut Ibn Hisyam, coinsident dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Tentang tahun gajah ini ada beberapa hal yang perlu dijelaskan. Pertama: Awalnya, raja Abraha di Yaman telah membangun al-Qullaiys (gereja Ekanola) di Yaman. Abraha sendiri adalah raja Yaman yang berdarah Ethiopia. Saya lebih suka menyebutnya sebagai gubernur wilayah Yaman sebab pusat kekuasaan Kristen ketika itu adalah kerajaan Aksum di Ethiopia. Kerajaan itu sangat besar. Mereka menguasai perdagangan kawasan Arab dan India.

Abraha berharap al-Qullaiys yang ia bangun menjadi “center of attraction” untuk mengembangkan industri turisme Yaman. Namun, pesona Ka'bah di lembah Mekkah lebih menarik perhatian para peziarah. Sehingga, ia mengkonsolidasikan pasukannya untuk menghancurkan ka’bah di Mekkah. Para sejarawan meyakini, pasukannya terdiri atas empat puluh ribu orang tentara dengan dipimpin langsung oleh Abraha yang menaiki seekor gajah putih.

Kedua: Masyarakat Arab kala itu belum mengenal kalender. Maka peristiwa itu menjadi peristiwa yang selalu diingat. Pada tahun ketika pasukan Gajah menyerang Ka'bah itu-lah, Nabi Muhammad SAW diyakini telah dilahirkan. Apakah persis di tahun saat penyerangan itu? Menurut saya, boleh jadi “Ya”, boleh jadi juga “tidak”. Mengapa?Sebab kisah tentang tahun kelahiran itu baru dibukukan oleh Ibn Hisyam kurang lebih seratus tahun setelah kematian Rasulallah SAW. Ibn Hisyam adalah sejarawan pertama yang menulis secara komprehensif perjalanan hidup Nabi. Antara lain, Ibn Hisyam menuturkan (dengan mengutip dari buku Ibn Ishaq yang – sayangnya – punah dan tak sampai ke tangan kita): “Telah menceritakan kepadaku: Al-Mutholib bin Abdullah bin Qais bin Mahrumah, telah berkata ia (Qais bin Mahrumah): “Aku dan Rasulallah dilahirkan di tahun yang sama: Tahun Gajah”. Cerita ini menunjukan, penulisan tentang sejarah Nabi baru dimulai tiga generasi – dari cucu: al-Mutholib, lalu anak: Abdullah, lalu pelaku sejarah: Qais.

Sebab lainnya, para sejarawan modern simpang siur mencatat peristiwa serangan ke Ka'bah itu. Ada yang mencatat terjadi di tahun 568 Masehi dan ada juga yang menyebutnya terjadi di tahun 569 Masehi. Sementara para sejarawan muslim menyebutnya terjadi tahun 570 M. Sehingga disimpulkan kelahiran Nabi itu adalah 31 Maret 570. Hemat saya, perbedaan tahun penyerangan itu wajar saja. Logika sederhananya, jangankan empat belas abad lalu, orang-orang tua kita saja jika ditanyakan kapan lahirnya, paling cuma bilang, “Aku lahir di zaman Belanda”. Sedangkan “zaman Belanda” adalah tiga ratus lima puluh tahun menjajah Indonesia. Nah, bagian yang mana “zaman Belanda”nya?
Namun demikian, satu fakta sejarah yang tak dapat ditolak adalah bahwa benar telah terjadi penyerangan ke Ka'bah dan menjadi menjadi bagian sejarah dalam mempelajari kehidupan Rasulallah SAW. Akhirnya, mari jadikan maulid ini sebagai momentum untuk memperkuat persaudaraan!

0 Response to "MAULID NABI SEBAGAI MOMENTUM PERSAUDARAAN "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel